Kamis, 11 April 2013

KUBURAN SEDANG MENUNGGU KITA

Dikatakan oleh para arif billah; Bahwa sesungguhnya setiap kali ada manusia yang lahir, maka itulah awal dari kematiannya. Se-dangkan setiap kali di antara mereka ada yang mati, maka itulah pula awal kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang kekal, yang bermula dari suatu tempat yang sempit dan gelap gulita di salah satu sisi bumi yang disebut sebagai kuburan. Akan tetapi sayangnya banyak di antara mereka yang dilalaikan oleh dunia dan tidak pernah ingat bahwa dirinya akan masuk dan dimasukkan ke dalam kuburan tersebut. Tempat dimana ia akan diuji coba apakah ia-nya termasuk orang yang selamat atau tidak.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal; At-Tirmidzi diceritakan bahwa: Hani' salah seorang pembantu Sayyidina Utsman bin Affan r.a menuturkan: “Jika Utsman berdiri di samping kuburan, maka beliau menangis hingga basah jenggotnya. Saya berkata kepada beliau: “Wahai amirul mukminin, jika engkau mengingat surga ataupun neraka engkau tidak pernah menangis. Lalu mengapa engkau menangis karena kuburan ini.” Lalu beliau menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : "Kuburan adalah awal kehidupan akhirat. Jika seseorang selamat daripadanya, maka selanjutnya pasti menjadi lebih mudah. Dan jika ia tidak selamat daripadanya, maka setelahnya akan lebih mengerikan." Setelah itu Sayyidina Utsman berkata lagi bahwa: “Rasulullah SAW juga bersabda: “Aku tidak melihat suatu pemandangan yang lebih mengerikan melainkan kuburan lebih mengerikan daripadanya."

Dalam riwayat lain diceritakan pula bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a yang juga disebut-sebut sebagai “khulafaur-rasyidin yang ke 5” dalam sejarah Islam, suatu hari telah menasihati para sahabatnya dengan berkata :

“Wahai para sahabatku, jika suatu waktu kalian melewati kuburan, lihatlah betapa berdempetnya rumah-rumah para penghuninya. Kemudian panggillah mereka yang ada di dalamnya jika engkau bisa memanggil.

Tanyakanlah kepada orang-orang kaya yang telah berdiam di sana, apakah masih tersisa kekayaan mereka. Dan kepada orang-orang miskin di antara mereka, tanyakan pula apakah masih tersisa kemiskinan mereka?

Tanyakan pula tentang lisan-lisan yang dengannya mereka berbicara, sepasang mata yang dengannya mereka melihat indahnya pemandangan. Juga keadaan tentang kelembutan dan kehalusan kulit tubuh mereka; tentang wajah-wajah mereka yang cantik jelita. Dan apakah yang telah diperbuat oleh ulat-ulat yang ada di dalam dan di balik kain kafan mereka.

Tanyakan pula tentang pelayan-pelayan mereka yang setia serta diimanakah tumpukan harta dan sederetan pangkat yang mereka miliki. Dimanakah rumah-rumah mewah mereka yang menjulang tinggi. Dimanakah kebun-kebun mereka yang rindang dan subur. Dimanakah pakaian-pakaian mereka yang indah-indah yang harganya mahal-mahal. Dimanakah kendaraan-kendaraan mewah kesukaan mereka. Dimanakah kolam renang dan telaga pribadi mereka. Bukankah mereka kini berada di tempat yang sangat sunyi? Bukankah siang dan malam bagi mereka sama saja? Bukankah mereka berada dalam kegelapan? Bahkan mereka telah terputus dengan amal mereka. Berpisah dengan orang-orang yang mereka cintai, harta dan segenap keluarganya. Karena itu wahai sahabat, sebagai orang yang tak lama lagi akan menyusul mereka masuk ke dalam kuburan! Kenapa engkau terpedaya dengan dunia?

Cobalah renungkan setiap saat tentang orang-orang yang telah pergi meninggalkan kita. Sungguh mereka amat berharap untuk bisa kembali ke dunia. Agar bisa menghimpun amal sebanyak-banyaknya. Tetapi, itu semua tidak mungkin terjadi karena mereka telah dikuburkan.”

Dalam kisah yang lain pula diriwayatkan, bahwa apabila teringat pada keadaan-keadaan kuburan yang tak menyenangkan tersebut, maka seorang hamba Allah yang ta’at yang bernama Syaikh Yazid Ar-Riqasyi rahimahullah meratap dan berkata kepada dirinya:

“Celakalah engkau wahai Yazid!. Siapakah yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati?. Siapakah yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapakah yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati.Lalu siapakah yang akan menyelamatkan engkau dari azab kubur yang sangat mengerikan itu.” Dan setelah itu beliau menangis sejadi-jadinya dan berusaha dengan sungguh-sungguh memelihara amal ibadahnya, lantaran mengenangkan betapa pedihnya kematian dan azab kubur yang akan dihadapinya.

Sementara itu seorang hamba Allah lainnya yang bernama Syaikh Ar-Rabi' bin Khutsaim rhmlh telah menggali dan membuat liang kubur di rumahnya, dan jika ia rasakan hatinya menjadi keras dan merasa malas untuk beribadah, maka beliaupun masuk ke dalam lahat yang telah digalinya tersebut sambil membayangkan bahwa dirinya telah mati. Kemudian di dalam lahat tersebut dengan perasaan penuh sesal beliau bacakan berulang kali firman Allah SWT:

“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka (kemudian dikuburkan) diapun berkata: “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia; agar aku dapat berbuat amal yang saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan….” (Q.S.Al-Mu’minuun: 99-100)

Setelah itu iapun menjawab sendiri:

“Wahai Ar-Rabi’ kini engkau akan dikembalikan ke dunia, oleh sebab itu hendaklah pada hari-hari yang akan kau lalui senantiasa berada dalam keadaan beribadah dan bertakwa kepada Allah.”

Sekarang stelah menyimak beberapa petikan riwayat yang telah disampaikan di atas, maka mari pula kita bertanya kepada diri sendiri; Pernahkah kita menyadari, bahwa suatu ketika kita juga akan menjadi penghuni kuburan yang sempit dan gelap gulita. Pernahkah bangkit kesadaran kita ketika pada hari-hari yang lalu silih berganti kita antarkan keluarga teman ataupun kerabat kita ke kuburan, bahwa kelak kita juga akan diantar dan ditanam seperti mereka. Diusung dari benderangnya dunia yang fana ini ke dalam gelap gulitanya kuburan. Dibawa dari rumah tempat berkumpul dengan ahli keluarga yang ceria lalu dimasukkan ke dalam kuburan tanpa ada yang ikut serta. Lalu sudahkah sudah siap segala perbekalan kita.

Mudah-mudahan pengajaran yang singkat ini dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allahu Azza Wa Jalla. Dan semoga saja kuburan kita akan menjadi istana yang menyenangkan dengan segala kelezatan dan kenikmatan. Bukan penjara yang menyedihkan dengan segala siksaan dan penderitaan. Sebab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Abdullah bin Umar r.a, bahwa Rasulullah SAW telah berpesan kepada Abu Dzarr Al Giffari r.a:

“Wahai Abu Dzarr, dunia adalah penjara bagi orang muslim; kuburan adalah tempat tinggalnya dan surga adalah tempat kembalinya. Sebaliknya wahai Abu Dzarr. Dunia adalah surga bagi kafir, kuburan adalh tempatnya disiksa dan neraka adalah tempat kembalinya.”

Wallahua’lam

Nama-nama / kelompok Iblis Yang Menggoda Manusia

Iblis Zailatun (زَيْلَة ٌ )

Iblis ini bertugas untuk menjerumuskan para pedagang di pasar agar berdusta, mau me­ngurangi timbangan, membuat onar diantara para pedagang, dan melakukan bujuk rayu kepada para pedagang agar melakukan pe­nyimpangan dan kecurangan dalam aqad jual beli, dengan diiming-imingi agar cepat kaya.


Iblis Wawatsin

Iblis Wawatsin dalah Iblis yang bertugas menggoda dan menjerumuskan orang yang beriman agar selalu menggerutu, tidak sabar dan tidak ikhlas setiap kali menerima musi­bah, atau cobaan dari Allah Ta'ala.

"Sesungguhnya wanita-wanita yang merintih (lantaran menerima musibah) ini akan dijadikan kelak di hari kiamat dua barisan dalam neraka jahannam, satu barisan berada disebelah kanan penduduk neraka dan satu barisan lagi berada disebelah kiri, akhirnya mereka menggonggong kepada penduduk ahli neraka, sebagai­mana layaknya anjing-anjing yang menggonggong." (HR. Ath-Thabrani).

Iblis Akwan

lblis ini bertugas menyesatkan dan mem­pengaruhi para remaja dan pimpinan umat supaya selalu berbuat dzalim, menjauhi hal-­hal yang ma'ruf, menanamkan kesenangan berbuat munkar dan maksiat.

Hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

"... tetapi setan (Iblis) menjadikan umat-umat itu memandang baik perbutan meeka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka adzab yang sangat pedih. (QS. An-Nahl 16:63)

Iblis Hafaf

Iblis ini bertugas menyesatkan dan menje­rumuskan kaum muslimin ke lembah nista yang berlumur dosa dengan cara melakukan tipu daya dan bujukan agar kaum muslimin melanggengkan minum khamer. Sebab jika seseorang sudah minum khamer dan mabuk, maka segala bentuk kemung­karan yang lain dengan mudah ia laksana­kan. Seperti berzina, membunuh, berbuat aniaya, mencuri dan segala kemungkaran yang lain

Iblis Wamurah

Iblis Wamurah ini bertugas menjerumus­kan para penyanyi agar mendendangkan lagu yang penuh maksiat, mengajak berbuat munkar, serta lagu-lagu yang bersyair ke­bebasan tanpa etika. Juga menjerumuskan para penyanyi agar berpenampilan seronok, yang dapat mengundang luapan nafsu dan maksiat. Dengan demikian orang akan mudah digiring untuk dijebloskan dalam dunia munkar dan maksiat. Nyanyian dan biduanitanya itu termasuk salah satu alat Iblis yang paling ampuh untuk menjerumuskan orang ke dalam jurang kesesatan yang penuh dengan lumuran dosa.

Iblis Laqwas

Iblis Laqwas adalah Iblis yang bertugas mempengaruhi manusia agar tetap kafir, tetap musyrik dan tetap menyembah ber­hala atau sesembahan lainnya selain Allah. Sudah banyak orang yang disesatkan oleh Iblis Laqwas, terkadang ia mengganti ben­tuknya seperti seorang syekh lalu memberi­kan pelajaran atau tuntunan yang meng­arah kepada kemusyrikan dan pemurtadan dengan berbagai dalih serta promosi yang mengikat, sehingga banyak orang yang le­mah imannya keluar dari jalur Islam karena mengikuti saran Iblis Laqwas, hanya demi mendapatkan sesuap nasi, jabatan, kedu­dukan, pekerjaan, fasilitas, bahkan ada yang rela melepaskan keimanannya demi sang kekasih.

Iblis A'war

Iblis ini bertugas untuk mempengaruhi dan menggoda laki-laki dan wanita untuk melakukan perbuatan zina, atau melakukan perbuatan maksiat lainnya.

Iblis A'war menggunakan "Pandangan Mata" sebagai cara yang paling ampuh untuk mem­bakar nafsu kaum lelaki dan wanita untuk berbuat maksiat.

Mujahid berkata : Ketika wanita itu meng­hadap, maka Iblis duduk di kepalanya untuk menghiasi Wajah wanita tersebut agar tampak menarik bagi orang yang melihatnya, dan jika wanita itu berpaling ke belakang, maka Iblis duduk di pantatnya untuk meng­hiasi pantat tersebut agar tampak menarik bagi orang yang melihatnya.

Iblis Al-Wasnan

Banyak orang terjerumus menjadi ahli mak­siat, bahkan dirinya sampai rela menanggal­kan aqidahnya yang disebabkan oleh malas beribadah.

Malas beribadah itu menunjuk­kan lemah keimanannya, bahkan keimanan­nya bisa sebagai lipstik belaka, sebagai pe­manis bibir saja, buktinya ia mengaku ber­iman tetapi tidak mau beribadah, bahkan perintah agama ia tentang, larangannya ia terjang. Orang-orang seperti inilah yang setia menjadi pengikut Iblis Al-Wasnan, yang malas beribadah tetapi senang bermaksiat. Al-Qur'an telah memperingatkan kaum muslimin agar tidak mengikuti langkah-­langkah Iblis, sebab Iblis itu menyesatkan, menyauhkan orang agar tidak beribadah ke­pada Allah Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-An'am 142:

"Dan janganlah kamu mmglkuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al An'am 6:142)"

Dengan demikian, bila ada orang malas ber­ibadah, senang berbuat munkar, maka dia telah menjadi teman Iblis.

Iblis Dasim

Iblis yang satu ini~bertugas untuk mempe­ngaruhi, menggoda dan mendorong suami istri untuk melakukan penyelewengan. Dengan terjadinya penyelewengan, maka sudah barang tentu rumah tangganya akan menjadi berantakan, tidak harmonis, jauh dari kebahagiaan yang pada akhimya nanti akan terjadi perceraian. Inilah yang diingin­kan oleh Iblis Dasim.

Semoga kitat tidak terjerumus kedalam ajakan iblis..

Selasa, 09 April 2013

Curhat Kepada Allah

“Sebaik-baik curhat adalah curhat kepada Allah, di atas sajadah, di sepertiga malam.”
Kalimat di atas suatu ketika pernah saya tuliskan di teamline saya.  Dengan maksud memberi tahu kepada sahabat-sahabat, supaya ketika curhat, lebih memilih untuk curhat kepada Allah. Karena hal itu lebih utama dan lebih membawa manfaat. Karena Allah maha segala-galanya. Ketika seorang hamba mengadu kepada, tentu Dia pasti mendengar dan akan memenuhi segala keperluannya.
Sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah memiliki perasaan. Maka sudah fitrah manusia untuk curhat. Curhat adalah kependekan kata dari “Curahan Hati”, maksudnya meluahkan perasaan.  Setiap kita tentu punya pengalaman curhat. Karena sudah pada umumnya begitu. Setiap mendapat, nikmat, kegembiraan, kebahagiaan, tentu ingin sekali berbagi cerita kepada orang lain, terutama orang-orang terdekat, untuk berbagi rasa. Dengan meluahkan rasa, nikmat yang didapat akan terasa bertambah nikmatnya. Ini bukanlah suatu hal yang salah, bahkan ianya sunah dan mampu meningkatkan rasa syukur. Istilahnya “tahdus binikmah”, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah. (QS. Ad Dhuha: 11). Namun ketika menyampaikan tentu ada etikanya, tidak boleh sampai menjadi takabur oleh nikmat yang telah diperoleh.
Begitu pula ketika mendapat musibah, fitrah manusia untuk curhat, mengadu, meluahkan rasa. Ketika jiwa murung, hati bingung, di situ ia akan mencari tempat untuk berlindung atau orang yang bisa mendukung. Ia perlu tempat meluahkan rasa, pada orang yang dipercaya. Dengan curhat pada peristiwa yang menimpa, ia akan merasa beban menjadi ringan, kesedihan menjadi berkurang, kebuntuan menjadi lapang, kepedihan menjadi terobati dan kedukaan menjadi terhibur. Walaupun kadang yang menjadi tempat ia curhat tidak mampu membantunya secara nyata, namun dengan menjadi pendengar yang baik kadang sudah cukup. Dengan nasihat dan kata-kata semangat sudah membuat jiwanya kuat. Dengan dukungan yang diberikan sudah membuat ia tidak merasa sendirian.
Oleh karena itu, jika kita melihat pada kondisi kehidupan masyarakat. Karena didorong fitrah manusia untuk curhat, banyak sekali profesi yang secara tidak langsung sebenarnya berkaitan sebagai tempat curhat. Para dokter selain mengobati juga tempat curhat bagi para pasien. Para konsultan menjadi tempat curhat bagi para kliennya. Ibu menjadi tempat curhat bagi anak-anaknya. Guru menjadi tempat curhat bagi para muridnya. Pendakwah menjadi tempat curhat bagi umat atau jamaahnya. Murabbi menjadi tempat curhat bagi mutarabbinya. Ulama menjadi tempat curhat bagi masyarakatnya. Pemimpin menjadi tempat curhat bagi rakyatnya. Dan masih banyak yang lainnya, perlu tulisan yang panjang jika disebutkan semuanya.

Curhat bukan kebiasaan manusia zaman sekarang saja. Tapi memang fitrah ini telah ada sejak manusia pertama diciptakan. Mungkin hanya cara curhatnya saja yang berbeda. Bukankah Nabi Adam AS ketika diciptakan oleh Allah di surga sendirian. Lalu ia merasa kesepian, kemudian curhat kepada Allah supaya diberikan teman, maka Allah ciptakan Hawa dari tulang rusuknya sebagai pendamping. Bukankah Nabi Nuh AS ketika melihat keluarganya akan tenggelam ia curhat kepada Allah supaya mereka diselamatkan, namun Allah mengatakan bahwa sebenarnya mereka bukan termasuk keluarganya karena tidak beriman. Bukankah Nabi Yunus AS ketika berada di dalam perut ikan juga curhat kepada Allah, lalu Allah selamatkan.  Bukankah ketika Nabi Musa AS akan menghadapi Fir’aun juga curhat kepada Allah supaya diangkat Harun AS saudaranya untuk menemaninya karena ia lebih fasih ucapannya. Bukankah Nabi Yusuf AS ketika bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan yang bersujud kepadanya lalu ia curhat kepada ayahnya, lalu ayahnya menyuruhnya untuk merahasiakan dari saudara-saudaranya.
Bukankah Nabi Sulaiman AS ketika mendengar kata-kata raja semut, juga curhat kepada Allah karena bahagia dan bersyukur.Bukankah Maryam ketika akan melahirkan dan duduk keletihan di bawah pohon kurma kemudian curhat kepada Allah, lalu Allah beri pertolongan dengan menggugurkan kurma.  Bukankah Rasulullah ketika mendapat wahyu pertama di gua Hira lalu pulang ke rumah kemudian curhat kepada istrinya, lalu istrinya menghiburnya dengan kata-kata penyemangat. Selain itu Rasulullah setiap malamnya juga curhat kepada Allah pada shalat-shalat panjangnya, sampai-sampai kedua kakinya bengkak. Bukankah Umar bin Khattab yang terkenal keras itu ketika menghadap Allah begitu lembut hatinya melebihi perasaan gadis pemalu sekalipun. Setiap tengah malam curhat kepada Allah sampai janggutnya basah oleh air mata.
Jadi curhat itu, why not? Boleh-boleh saja. Curhat kepada manusia? Juga tidak ada masalah. Asalkan caranya benar, adab-adabnya terjaga. Caranya di antaranya, jika tahadus binnikmah, jangan sampai terbersit rasa sombong, jadikan nikmat kita menjadi penyemangat kebaikan kepada sesama. Jika nikmat itu bersifat rahasia, cukuplah curhat kepada orang-orang yang terpercaya, supaya jangan sampai justru menjadi sebab timbulnya fitnah. Begitu pula jika mendapat musibah, tak perlu menghebohkan musibah kita kepada semua. Karena dikhawatirkan bukan meringankan musibah, malah musibah bertambah dan menunjukkan bahwa kita sebagai orang yang lemah dan suka mengeluh. Tidak sabar menerima takdir. Cukuplah ketika mendapat musibah curhat kepada orang-orang terdekat, yang terpercaya dan mampu membantu, secara material maupun mental.
Begitu pula ketika mendapat kesusahan, tidak perlu curhat kepada semua orang, karena belum tentu dengan berbuat begitu kesusahan akan hilang. Justru hal itu bisa merendahkan harga diri, menyebalkan orang yang mendengar, membuat risih orang sekitar, tetapi cukuplah curhat pada orang tertentu yang mampu memberi solusi. Atau lebih baik lagi simpan kesusahan, cukuplah dilalui dengan kesabaran. Tidak perlu diperlihatkan. Biarlah Allah saja yang tahu, biarlah Allah saja yang membantu, dan biarlah Allah yang memberikan sebaik-baik pahala atas kesabaran.
Namun selain itu semua, jika kita meminta didoakan. Tidak ada salahnya kita meminta kepada siapa saja. Karena meminta doa orang lain adalah dianjurkan. Boleh jadi doa-doa dari orang lain itulah yang Allah kabulkan.  Bukankah ketika meminta doa kepada seseorang tidak perlu menceritakan segalanya apa yang ada pada diri kita.

Lalu bagaimana curhat yang paling baik? Seperti pernyataan di awal tulisan ini, bahwa sebaik-baik curhat adalah curhat kepada Allah, di atas sajadah, di sepertiga malam. Sebagai orang beriman, hendaknya menggantungkan semua urusan kepada Allah. Allah menjadi tempat pertama untuk meluahkan isi hati sebelum kepada yang lainnya. Yakinlah kepada pertolongan Allah, yakin kepada keputusan atau takdir Allah yang ditentukan adalah yang terbaik bagi kita. Karena Allah tahu apa yang terbaik bagi hambaNya. Boleh jadi kadang apa yang kita sangka baik belum tentu baik menurut Allah, dan bisa jadi apa yang kita tidak sukai justru sebenarnya itu yang terbaik untuk kita.
Jadi setiap kali mendapat nikmat atau musibah, yang pertama dan yang utama adalah curhat kepada Allah. Sampaikan dan luahkan apa yang ada di hati kita kepada Allah. Walau pun Allah sebenarnya maha tahu terhadap segala isi hati, namun Dia menyukai jika hambaNya meluahkan hati kepadaNya. Dengan luahan rasa syukur atau pun luahan rasa mengiba, meminta pertolongan. Jika seorang hamba meluahkan rasa bahagia dan syukur atas nikmatNya, maka Dia akan menambahkan nikmat tersebut dan menjadikannya berkah.  Jika seorang hamba mengadu dan meminta pertolongan padaNya, maka Dia akan menghilangkan musibah dan kesusahan atau memberi kekuatan dan kesabaran dalam menghadapinya.
Apa pun yang diperoleh manusia di dunia ini, mulai dari rezeki berupa harta, ilmu, keluarga, kedudukan dan yang lainnya. Semuanya adalah pemberian Allah, bukan semata-mata atas hasil usaha manusia. Usaha manusia itu hanya sebatas perantara. Oleh karena itu manusia tidak boleh melupakan Dzat yang maha memberi segalanya.
Curhat kepada Allah adalah bagian dari mengingat-Nya. Memang sebaik-baik ucapan adalah dzikir. Namun maksud dzikir bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan hati yang selalu mengingat Allah dan terikat denganNya.  Ia sebagai sumber ketenangan.
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du:28)

Jadi sebagai seorang mukmin sudah seharusnya hatinya hanya dipenuhi dengan cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah adalah yang utama sebelum mencintai yang lainnya. Rasa cinta kepada yang lainnya adalah dalam rangka mendapatkan dan menguatkan cinta kepadaNya.
Sumber ketenangan hanya dari Allah. Tidak ada yang pantas membuat seorang mukmin resah hanya karena hal dunia. Jadi jika kita mempunyai hajat, cukup curhat dan sampaikan kepada Allah. Karena itulah yang utama, sabar dan yakin sebagai syaratnya, dengan begitu Dia akan penuhi segala keperluan kita.  Mulai dari rezeki, ilmu, jodoh,  keturunan, kebahagiaan, kesehatan dan yang lainnya. Semuanya mintalah kepada Allah. Allah pasti akan kabulkan, walaupun kita belum tahu kapan dikabulkannya.  Allah maha tahu kapan waktu yang terbaik untuk memberikan kepada kita apa yang kita hajatkan.  Janji Allah pasti dipenuhi. Oleh karena itu, Curhatlah kepada Allah.


Rabu, 03 April 2013

Jilbab Adalah Pakaian Taqwa Seorang Muslimah

Perputaran roda kehidupan meninggalkan pergeseran sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat. Kaum feminisme dan liberalisme bersatu membuat propaganda pemikiran perempuan untuk dapat hidup bebas tanpa batas. Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim diiming-imingi dengan pemikiran Barat atas nama bias gender.
Islam oleh kaum feminisme dianggap agama yang mengekang kebebasan perempuan serta pembagian yang tidak adil terhadap hak waris, pernikahan, perwalian, perceraian, poligami dan hak berekspresi mengenakan pakaian. Padahal, saat ditelisik lebih jauh justru Islam hadir untuk memuliakan kaum perempuan dengan berbagai aturan yang ada.
Segala aturan yang ditetapkan Allah bukan untuk memberatkan manusia, melainkan untuk mempermudah urusan. Sebagai contoh jika harta waris sama antara laki-laki dan perempuan, maka kaum laki-laki terzhalimi karena ia juga menanggung beban hidup istri dan anak-anaknya. Sedangkan hak waris perempuan 100% untuk kepentingan dirinya sendiri.
Pada sisi yang lain, model berpakaian menjadi salah satu tameng yang digencarkan kaum feminisme dengan kebebasan mengumbar aurat. Ibarat sebuah intan, semakin bagus kualitas barang maka sang pemilik akan semakin hati-hati merawatnya. Tidak mungkin intan dibuang di tong sampah, sang pemilik tentu akan merawat dan menyimpan di tempat yang aman.
Logika berjilbab
Allah membuat aturan untuk manusia dengan pandangan kasih sayang, sedangkan manusia yang tidak bersyukur memandang aturan tersebut dengan pandangan nafsu syahwat. Hanya orang- orang yang beriman yang mampu berfikir dan menerima bahwa dengan menutup aurat kehormatan lebih terjaga.
Menutup aurat bukan berarti menanggalkan budaya modis dalam berekspresi. Perkembangan pemikiran para desainer jilbab menawarkan begitu banyak pakaian modis yang bisa tampil cantik. Namun tetap ada batasan bagi perempuan dalam berpakaian. Karena pakaian muslimah tidak hanya cukup menutup aurat, namun ada esensi yang akan dicapai.
Kewajiban menutup aurat berlaku bagi perempuan dan laki-laki. Hanya saja batasan di antara keduanya berbeda. Aurat laki-laki dari pusat hingga lutut, sedangkan perempuan seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Pun aurat tersebut bukan tidak boleh dilihat oleh semua orang, hanya segelintir orang saja yang tidak boleh melihat yaitu yang bukan muhrim
Muhrim maksudnya adalah yang termaktub dalam Q.S. An Nur ayat 31 yaitu suami, ayah, mertua laki-laki, anak laki-laki, anak laki-laki suami jika beda istri, saudara kandung, keponakan laki-laki, sesama muslimah, anak – anak yang belum tahu aurat perempuan dan hamba sahaya pada zaman dulu. Jadi tidak semua laki-laki tidak boleh melihat aurat perempuan.
Sehingga, seorang muslimah tidak harus mengenakan jilbab di rumah selama yang ada di rumah adalah yang semuhrim. Berbeda saat ada tamu laki-laki atau sepupu yang bertamu, seorang muslimah harus menutup auratnya. Jika ia tidak menutup aurat, maka selama ada laki-laki yang bukan muhrim memandang aurat perempuan, selama itu pula dosa terus mengalir.
Menutup aurat hukumnya wajib, bukan sunat. Sehingga jika tidak dilakukan akan mendapat dosa. Dan jika dilakukan mendapat pahala. Anekdot yang dipahami masyarakat adalah jika mengenakan jilbab tidak boleh meninggalkan shalat, memfitnah dan bentuk dosa lain. Artinya, masyarakat memandang lebih bagus buka aurat asalkan perilaku baik. Dari pada mengenakan jilbab tapi perilaku bejat.
Padahal, dengan berjilbab justru akan memotivasi agar berperilaku baik. Sehingga jilbab yang dikenakan muslimah merupakan pendorong dan penyebab untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lain.
Kalaupun ada seorang muslimah yang memakai jilbab namun perilakunya tidak baik, maka selama ia menutup aurat, ia terbebas dari dosa dan mendapat pahala. Sedangkan perilaku buruknya bernilai dosa. Kondisi ini sebagai cerminan bahwa manusia adalah makhluk lemah yang perlu selalu minta bimbingan kepada Allah swt.
Apabila ada seorang muslimah yang mengenakan jilbab namun perilaku sangat jauh dari tuntunan Islam, sepengamatan penulis orang-orang seperti ini berada di persimpangan jalan. Seiring berjalannya waktu, jika hati muslimah tersebut condong pada kebaikan maka perlahan perilakunya membaik. Sebaliknya jika hatinya condong kepada keburukan maka ia akan menanggalkan jilbabnya.
Sebagaimana minyak dan air tidak akan pernah bersatu dalam satu wadah. Begitu pula dengan kebaikan dan keburukan.  Sesungguhnya menutup aurat ringan dilakukan bagi yang menyadari bahwa diri perempuan adalah perhiasan dan barang mahal yang ditak bisa diobral. Sedangkan berat bagi yang mendahulukan nafsu syahwat sebagai Tuhan.
Menutup yang Syar’i
Perintah menutup aurat terdapat dalam Q. S. An Nur ayat 31 ” Dan katakanlah kepada para perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya) kecuali yang bisa terlihat….”
Para desainer pakaian tidak semua yang memperhatikan esensi dari jilbab yang digunakan yaitu untuk melindungi dan mudah dikenal. Melainkan untuk bisnis yang terkadang mengenyampingkan tujuan awal berjilbab, yaitu menutup aurat.
Pakaian boleh modis asalkan memenuhi kriteria agar tetap dianggap Allah menutup aurat, yaitu tebal agar tidak menerawang, tidak membentuk lekuk tubuh dan menutupi seluruh aurat.
Batasan tersebut agar muslimah tidak termasuk dalam hadits berikut “Sesungguhnya sebilangan ahli neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang condong kepada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya“ (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesalahan dalam menutup aurat yang biasanya terjadi adalah jilbab yang digunakan berukuran kecil sehingga tetap nampak bentuk dada perempuan, baik saat dilihat dari depan atau dari samping. Kemudian tidak mengenakan kaus kaki dan manset untuk melindungi pergelangan tangan.

Baju yang digunakan muslimah hendaknya menjulur hingga di bawah pinggul atau sampai paha, agar bentuk bokong tidak terlihat. Selain itu baju dan rok yang digunakan harus longgar, karena jika sempit akan membentuk tubuh.
Dari sisi kesehatan, perempuan yang menutup aurat akan terlindungi dari terik matahari. Kulit pun menjadi putih bersih dan tidak kering. Dengan pakaian yang longgar, sirkulasi angin dan darah akan lebih lancar dibandingkan pakaian jean yang ketat.
Pakaian seksi hanya akan menyiksa perempuan. Bagaimana tidak? Saat ingin duduk tangan sibuk menutupi bokong atau paha yang terbuka, sesekali menutupi dada saat ingin jongkok. Akhirnya, fungsi tangan tidak bebas beraktivitas. Tidak hanya itu, perasaan lekuk tubuh yang dilihat laki-laki ganjen juga akan merusak konsentrasi dan menurunkan produktivitas.
Sedangkan perempuan yang berpakaian menutup aurat dengan benar, ia akan bebas berlompat, lari, jongkok, duduk maupun berbaring. Karena pakaian yang dikenakan longgar dan seluruh auratnya telah tertutupi, sehingga bergerak seperti apapun tidak akan tersingkap. Untuk menjadi lebih shalihah perempuan membutuhkan lingkungan yang kondusif, teman yang baik dan jalan menuju surga membutuhkan proses belajar yang berkepanjangan.
Yang paling penting bagi perempuan yang dengan benar menutup aurat adalah, ia dipandang mulia tidak hanya di hadapan manusia, terlebih di hadapan Allah. “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa  itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raaf: 26).
Pakaian taqwa yang dikenakan perempuan shalihah mencerminkan dirinya sebagai simbol perhiasan dunia akhirat. Bahkan bidadari surga cemburu padanya. Di akhirat kelak, ia akan menjadi ratu, bidadari adalah dayang -dayang mereka.
Lalu mengapa perempuan tidak menahan diri sejenak dan bersabar menahan nafsu? Bukankah Allah tidak pernah ingkar janji dan negeri akhirat itu lebih kekal? Allah menunjuki kita jalan ke surga, dan setan selalu menggiring kita menuju neraka. Hidup adalah pilihan.
Wallahu’Alam…

Sumber : Dakwatuna

Selasa, 02 April 2013

Saudariku.. Kenalilah Tuhanmu, Nabimu, Dan Agamamu

Sebagian besar kaum muslimin mungkin tidak asing dengan pembahasan mengenai ‘Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Apa Agamamu?’ Banyak kajian-kajian keislaman yang selalu membahas masalah ini, karena ketiganya adalah tiga perkara pokok yang akan ditanyakan kepada seorang hamba ketika di alam kubur nanti. Barang siapa yang selamat darinya maka selamatlah dia dari siksa kubur. Namun bila tidak mampu menjawabnya, maka siksa kubur pun menantinya. Termasuk di manakah kita?
Mengetahui Tiga Landasan Pokok
Mengenal Allah, Nabi-Nya, dan agama Islam adalah tiga landasan pokok yang wajib diketahui seorang hamba. Jika seseorang mengetahui tiga hal ini serta melaksanakan segala konsekuensinya maka baginya keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Mengapa ini penting bagi seorang hamba? Sebab seorang hamba ketika di alam kubur akan ditanya, “siapa Rabbmu? siapa nabimu? dan apa agamamu?” Jika dia diberi taufik untuk menjawab tiga perkara di atas maka selamatlah dia dari siksa kubur di mana hal tersebut menjadi indikator keselamatannya di akhirat. Begitu pun sebaliknya, seorang hamba yang tidak bisa menjawab tiga perkara tersebut maka sengsaralah nasibnya di akhirat kelak. Wal-‘iyadzubillah.
Dalam pembahasan ini penulis hanya akan menyampaikan secara global masalah tiga landasan utama tanpa menjelaskannya secara terperinci. Berikut ini penjelasan ketiga landasan tersebut.
Landasan Pertama: Mengenal Allah Sebagai Rabb
Secara bahasa, kata Ar-Rabb bermakna pemelihara. Dari kata Ar-Rabb ini terkandung beberapa makna yang lain semisal Al-Malik (penguasa), Al-Mudabbir (pengatur), Al-Mutasharrif (pengatur)dan Al-Muta’ahhid (pemelihara). Penulis kitab Ushul Tsalatsah, Syaikh Muhammad At-Tamimi lebih memilih makna Ar-Rabb sebagai pemelihara. Sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab beliau
ربي الله الذي رباني، وربى جميع العالمين بنعمه
“Rabbku adalah Allah yang memeliharaku dan memelihara seluruh alam semesta dengan nikmat-Nya…”
Kata Ar-Rabb juga bermakna ma’bud (sesembahan). Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” QS. Al-Baqarah: 21)
Mengenai makna Rabb dari ayat di atas, Imam Ibnu Katsir mengatakan:
الخالقُ لهذه الأشياء هو المُسْتَحِقُّ للعبادةِ
“Sang Pencipta segala sesuatu adalah Dzat yang berhak disembah.” Hal ini selaras dengan tujuan diutusnya para Rasul yaitu untuk menyeru kaumnya agar hanya menyembah Allah saja dan tidak menyembah selain-Nya, sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu’” (QS. An-Nahl: 36)
Mengapa penting bagi kita untuk mengenal Allah sebagai Rabb? Seorang hamba harus mengenal Rabbnya yang Maha Suci lagi Maha Tinggi yang diperoleh melalui kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, baik itu berupa keesaan, nama-nama, maupun sifat-sifat-Nya. Dia adalah Rabb dari segala sesuatu dan Penguasanya, tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Dia dan tidak ada Rabb yang berhak diibadahi, melainkan Dia semata. Oleh karena itu kita wajib mengetahuinya agar kita benar-benar bisa mengabdi kepada-Nya dan dengan pengetahuan yang benar.
Adapun mengenal Allah bisa ditempuh dengan memperhatikan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Dari segi bahasa al-aayah [arab: الأية ] memiliki banyak arti, di antaranya bermakna burhan [arab: برهان ] (keterangan) dan dalil. Ayat Allah sendiri dibagi dua macam:
  1. Ayat-ayat syar’iyyah: maksudnya adalah wahyu yang dibawa para rasul, yang demikian itu adalah ayat-ayat Allah. Allah ta’ala berfirman:
  2. هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ
    Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an)” (QS. Al-Hadid: 9)
    Bagaimana wahyu bisa dijadikan dalil tentang keberadaannya Allah subhanahu wa ta’ala? Alasannya karena wahyu yang dibawa para rasul adalah wahyu yang sudah tersusun rapi dan sempurna serta tidak saling berlawanan. Allah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’anul Karim:
    وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
    Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan adanya pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa’: 82)
    Dengan demikian jelaslah bahwa Al-Qur’anul Karim merupakan dalil tentang adanya Rabb yang Maha Agung.
  3. Ayat-ayat kauniyah: yaitu para makhluk, seperti langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain.
Memahami Tauhid Sebagai Perintah Allah Terbesar
Berkaitan dengan wajibnya seorang hamba mengenal Allah—yakni untuk bisa benar-benar beribadah dengan pemahaman yang benar—maka seorang hamba pun harus mengetahui ibadah apa yang sangat diperintahkan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Perkara tersebut adalah tauhid.
Syaikh At-Tamimi, penulis kitab Ushul Tsalatsah, mendefinisikan tauhid sebagai pengesaan Allah dalah hal ibadah. Makna tauhid sendiri secara umum adalah pengesaan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan nama serta sifat-sifat Allah. Untuk itu sebagian ulama membagi tauhid menjadi tiga macam, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Adapun penjelasan masing-masingnya adalah sebagai berikut:
  1. Tauhid rububiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Pencipta seluruh makhluk, Penguasa dan Pengatur segala urusan alam, Yang memuliakan dan menghinakan, Yang menghidupkan dan mematikan, Yang menjalankan malam dan siang, serta Yang maha kuasa atas segala sesuatu.
  2. Dengan demikian, tauhid rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal, yaitu: (1) beriman kepada perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala secara umum, seperti menciptakan, memberikan rizki, menghidupkan, mematikan, dan lain-lain; (2) beriman kepada qadha dan qadar Allah Ta’ala; (3) beriman kepada keesaan Dzat-Nya.
  3. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Seperti, berdo’a, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakkal, bertaubat, dan lain-lain.
  4. Kemurnian tauhid uluhiyah hanya akan diperoleh dengan mewujudkan dua hal mendasar, yaitu: (1) seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah Ta’ala saja, bukan kepada yang lainnya; (2) dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan syari’at Allah Ta’ala.
  5. Tauhid asma’ wa shifat adalah keyakinan tentang keesaan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya yang terdapat di Al-Qur’an dan As-Sunnah, disertai dengan meingimani makna-makna dan hukum-hukumnya (konsekuens-konsekuensinya).
  6. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam tauhid asma’ wa shifat adalah sebagai berikut: (1) Harus menetapkan semua nama dan sifat Allah Ta’ala, tidak menafikan (meniadakan) dan tidak pula menolaknya; (2) tidak boleh melampaui batas dengan menamai dan mensifati Allah Ta’ala di luar nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya; (3) tidak menyerupakan nama dan sifat Allah Ta’ala dengan nama dan sifat para makhluk-Nya; (4) tidak boleh (dan tidak memungkinkan) untuk mencari tahu kaifiyah (bagaimananya) dari sifat-sifat Allah tersebut; (5) beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan konsekuensi nama dan sifat-Nya.
Keimanan seseorang kepada Allah Ta’ala tidak akan utuh sehingga berkumpul pada diri-Nya ketiga macam tauhid di atas. Tauhid rububiyah seseorang tidak akan berguna sehingga dia ber-tauhid uluhiyah. Sedangkan tauhid uluhiyah seseorang tidak akan lurus sehingga dia bertauhid asma’ wa shifat. Singkatnya, mengenal Allah Ta’ala saja tidaklah cukup kecuali seseorang tersebut benar-benar beribadah hanya kepada-Nya. Sedangkan beribadah kepada Allah Ta’ala tidak akan terwujud dengan benar tanpa mengenal Allah Ta’ala.

Sabtu, 23 Februari 2013

Kesaksian Orang Mati Suri, Cerita Nyata tentang Kematian & Alam Barzah

Aslina adalah warga pekan baru yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri. Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka.
Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid) . Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit di jakarta. Setelah itu, Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi. "Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan," jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa
Aslina kembali ke jakarta sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir, ” ungkapnya.
Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut
membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ”Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu..

Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.
Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ”Terasa malaikat mencabut (nyawa) dari kaki kanan saya,” tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ”Saat di ujung napas, saya berzikir,” ujarnya. ”Sungguh sakitnya, Pak, Bu,” ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.

Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalammualaikum kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ‘’siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu..“

Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.

Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis,badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut.

Kemudian Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah
ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.” Mendengar itu ayah saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu. ” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai”.

Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ”Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan itu menjawab.”Akulah (amal) kamu.”

Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. ”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.

Lalu dilihatnya orang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.

Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.

Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.

Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik,red).

Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan adzan seperti adzan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ”Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ”Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,” ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ”husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnyaia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil.Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina.
”Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.”

Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon. ”Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”

Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah.

”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua, ” ujarnya.

Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin
beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,” Mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100:

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).”(99) .

Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding
sampai hari mereka dibangkitkan. (100).

Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39:

”Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”

Setelah berpidato, aslina mendapatkan tepukan meriah dari penonton tapi bila di facebook, ia dapatkan jempol sekarang.

Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan tersebut.

Nb : Bagikan cerita ini kepada semua orang, agar mereka mendapat hikmahnya dari cerita ini.

Dan Ternyata hidup ini hanya sementara, serta hanya amal juga hati yang bersihlah yang mampu menuntun kita menuju jalan kehadapan illahi
 

Sabtu, 02 Februari 2013

Seorang Mualaf yang Memilih Islam Karena Kerancuan Injil

Nama saya Yoory Yonathan Foortse, namun setelah  memeluk Islam saya berganti nama menjadi Yusuf Ismael Al-Hadid. 31 tahun yang lalu saya lahir dan kini tinggal di Gunun Kidul Yogyakarta.
Alhamdillah saya mengucap syukur kepada Allah SWT yang telah meberikan hidayahNYA sehingga pada tahun  1994 silam saya mengucapkan syahadat sebagai awal mula memeluk Islam. Bagi saya menjadi seorang muslim merupakan pertolongan dan petunjuk dari Allah. Terlebih saya hidup dalam keluarga besar pendeta yang sejak awal selalu menyampaikan  pesan-pesan dalam kitab injil kepada pemeluk agama Kristen.
Keislaman saya benar-benar membutuhkan proses yang cukup panjang. Sebab masalah keyakinan memang sulit untuk diubah. Sebelum memeluk Islam, saya sudah terbiasa berceramah dihadapan umat kristiani sejak kelas 4 SD. Saat itu saya diberikan waktu satu jam setiap hari untuk menyampaikan kandungan Kitab Injil kepada siswa kristiani. Ayahsaya sendiri juga seorang pendeta yang sangat disegani di kalangan masyarakat.

Kerancuan Injil
Saya sendiri baru mendapat petunjuk itu sekitar 4 bulan setelah ayah lebih dahulu masuk Islam, tepatnya di tahun 1994. Pada saat itu, keputusan ayah yang secara tiba-tiba pindah agama benar-benar membuat gempar di kalangan umat Kristiani. Betapa tidak, ayah yang sebelumnya membimbing mereka, tiba-tiba malah keluar dari agama Kristen. Ayah saya pun banyak di cap sebagai  penghianat Yesus.
Tentu saja semuanya kaget. dan tidak terima, termasuk saya sendiri yang saat itu sudah menjadi pendeta. Banyak pendeta dan orang-orang Kristiani yang merasa sakit hati dan berusaha berkali-kali membujuk ayah agar kembali ke agama Kristen. Namun, semua usaha itu tidak berhasil mengembalikan ayah saya menjadi umat kristiani.
Saya sendiri juga tidak tinggal diam. Berkali-kali saya menyempatkan waktu untuk berdiskusi  tentang alasan ayah masuk Islam. Namun, alih-alih dapat mempengaruhi keyakinan ayah, justru saya akhirnya ikut merasa ragu dengan kebenaran Yesus.
Ayah menjelaskan bahwa Yesus tidak seperti yang dipahami umat kristen pada umumnya. Banyak sekali kerancuan dalam Injil yang tidak sesuai dengan apa yang di praktikkan mereka. Diantaranya dalam Injil disebutkan bahwa ketika Yesus meninggal, ia dikafani dan dikubur, tapi umat kristiani tidak pernah melakukan itu. Malah yang melakukannya adalah umat Islam.
Ayah juga mengatakan bahwa Islam adalah agama yang hebat dan satu-satunya yang diridhai oleh Allah. Salah satu kehebatan itu adalah dengan dijelaskannya kehidupan setelah kematian, khusunya yang menyangkut syurga dan neraka. Sementara kitab Injil yang sudah puluhan tahun yang kami tekuni, tidak sampai menjelaskan sejauh itu..

Wallahualam..
Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.. Semua manusia punya jalannya masing-masing untuk menemukan Tuhannya..
Termasuk saya.. :)