kemarilah,
ini rahasia! aku tanya dulu ya, bagaimana pendapatmu ttg kecantikan
wanita?...(menjawab)... ok betul betul. tp ada yg lbh spektakuler cetar
membahana ttg kecantikan wanita spesial, wanita muslimah. cantiknya
wanita muslimah saat msih mnjadi gadis, ternyata tdk terletak pada
celana jeans ketat yg katanya kece itu. tdk terlihat pada baju2 super
ekstra hot yg katanya seksi itu. kecantikan itu
terletak saat dia mengenakan baju2 longgar dan menutup anggun seluruh
auratnya, sesuai porsi yg Allah tetapkan. ceria kadang cerewet saat
bersama teman2 wanitanya, tp menjadi super pendiem hampir jutek nan
tegas saat berhadapan dgn laki-laki non mahromnya. apalagi saat mereka
menundukan pandangan krn Rabbnya, cadaaas mamen, canttiiiknyoo. lalu
lalu, ketika dia mnjadi seorang ibu. ketika mereka qona'ah dgn takdir
Ilahi. kecantikannya dia rawat krn Rabbnya, dia berdandan sampai jelita
u/ suaminya, ya hanya suaminya yg bisa melihat dn merangkulnya,
exclusive sekali ya, sperti ratu2 kerajaan. kemudian ketika dirinya
berbalut kain2 bermotif sederhana, menyuapi anak2 mereka, bermain,
ramah menyapa ibu2 tetangg, menggunakan daster, subhanallah,
cantiiiknyaa, luarrr biasah. jadi pemirsa, jangan salah becermin,
jadilah cantik dimata Rabbmu, itu sudh lbh dari cukup. lalu tunggulah
dirimu merekah indah, sampai terlantik menjadi bidadari surgaNya. sampai
jumpa d perkumpulan bidadari2 bermata jeli, insyaAllah kita jd yg
tercantik disana #edisibidadari
Dikutip dari statusnya kak Arini Muniroh An-Nisa ..
Maaf ya kk.. statusnya di pinjam.. :D
Ya Allah, sungguh mulia Engkau.. Kami lahir tak bis melihat, Kau buat melihat.. Kami lahir tuli, Kau buat mendengar.. Kami lahir tak bergerak, Kau buat melangkah.. Kami lahir tak mengerti, Kau tanamkan pengertian.. :)
Selasa, 25 Februari 2014
Jangan Berheni Belajar wahaii Guru Sejati.. :)
Karena seorang guru, adalah seorang pembelajar sejati yang mempunyai
mental baja. Guru adalah seseorang pembelajar sejati yang tak pernah
letih untuk berbenah. Guru, adalah seorang pembelajar sejati yang tak
pernah mati dalam berkreasi. Ia, adalah pembelajar sejati yang tak
pernah berhenti belajar, sampai mati. Because teacher is never die, because study is never die..
#BersamaDakwah
#BersamaDakwah
Senin, 23 September 2013
LELAKI ACUAN AL-QURAN
Lelaki acuan al-Quran ialah seorang lelaki yang beriman....
Yang hatinya disaluti rasa taqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Yang sentiasa haus dengan ilmu
Yang sentiasa dahaga dengan pahala
Yang solatnya adalah maruah dirinya
Yang tidak pernah takut berkata benar
Yang tidak pernah gentar untuk melawan nafsu
Lelaki acuan al-Quran ialah lelaki yang menjaga tuturkatanya....
Yang tidak bermegah dengan ilmu yang dimilikinya
Yang tidak bermegah dengan harta dunia yang dicarinya
Yang sentiasa berbuat kebaikan kerana sifatnya yang pelindung
Yang mempunyai ramai kawan dan tidak mempunyai musuh yang bersifat jembalang....
Lelaki acuan al-Quran ialah lelaki yang menghormati ibubapanya....
Yang sentiasa berbakti kepada kedua orangtua dan keluarga
Yang bakal menjaga keharmonian rumahtangga
Yang akan mendidik anak anak dan isteri mendalami agama Islam
Yang mengamalkan hidup penuh kesederhanaan
Kerana dunia baginya adalah rumah sementara menunggu akhirat...
Lelaki acuan al-Quran sentiasa bersedia untuk agamanya....
Yang hidup dibawah naungan al-Quran dan mencontohi sifat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassallam
Yang boleh diajak berbincang dan berbicara
Yang sujudnya penuh kesyukuran dengan rahmat Allah ke atasnya....
Lelaki acuan al-Quran tidak pernah membazirkan masa....
Matanya kepenatan kerana kuat membaca
Yang suaranya lesu kerana penat mengaji dan berzikir
Yang tidurnya lena dengan cahaya keimanan
Bangun subuhnya penuh dengan kecerdasan
Kerana sehari lagi usianya bertambah penuh kematangan....
Lelaki acuan al-Quran sentiasa mengingati mati....
Yang baginya hidup didunia adalah ladang akhirat
Yang mana buah kehidupan itu perlu dibajai dan dijaga
Meneruskan perjuangan Islam sebelum hari kemudian....
Lelaki acuan al-Quran ialah lelaki yang tidak mudah terpesona....
Dengan buaian dunia
Kerana dia mengimpikan Syurga
Disitulah rumah impiannya
Bersama wanita acuan al-Quran
Yang hatinya disaluti rasa taqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Yang sentiasa haus dengan ilmu
Yang sentiasa dahaga dengan pahala
Yang solatnya adalah maruah dirinya
Yang tidak pernah takut berkata benar
Yang tidak pernah gentar untuk melawan nafsu
Lelaki acuan al-Quran ialah lelaki yang menjaga tuturkatanya....
Yang tidak bermegah dengan ilmu yang dimilikinya
Yang tidak bermegah dengan harta dunia yang dicarinya
Yang sentiasa berbuat kebaikan kerana sifatnya yang pelindung
Yang mempunyai ramai kawan dan tidak mempunyai musuh yang bersifat jembalang....
Lelaki acuan al-Quran ialah lelaki yang menghormati ibubapanya....
Yang sentiasa berbakti kepada kedua orangtua dan keluarga
Yang bakal menjaga keharmonian rumahtangga
Yang akan mendidik anak anak dan isteri mendalami agama Islam
Yang mengamalkan hidup penuh kesederhanaan
Kerana dunia baginya adalah rumah sementara menunggu akhirat...
Lelaki acuan al-Quran sentiasa bersedia untuk agamanya....
Yang hidup dibawah naungan al-Quran dan mencontohi sifat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassallam
Yang boleh diajak berbincang dan berbicara
Yang sujudnya penuh kesyukuran dengan rahmat Allah ke atasnya....
Lelaki acuan al-Quran tidak pernah membazirkan masa....
Matanya kepenatan kerana kuat membaca
Yang suaranya lesu kerana penat mengaji dan berzikir
Yang tidurnya lena dengan cahaya keimanan
Bangun subuhnya penuh dengan kecerdasan
Kerana sehari lagi usianya bertambah penuh kematangan....
Lelaki acuan al-Quran sentiasa mengingati mati....
Yang baginya hidup didunia adalah ladang akhirat
Yang mana buah kehidupan itu perlu dibajai dan dijaga
Meneruskan perjuangan Islam sebelum hari kemudian....
Lelaki acuan al-Quran ialah lelaki yang tidak mudah terpesona....
Dengan buaian dunia
Kerana dia mengimpikan Syurga
Disitulah rumah impiannya
Bersama wanita acuan al-Quran
Jumat, 20 September 2013
Pesona Kecantikan Batin Wanita Muslimah (Inner Beauty)
Malu karena Allah adalah perona pipinya…
Penghias rambutnya adalah jilbab yang terulur sampai dadanya…
Zikir yang senantiasa membasahi bibir adalah lipstiknya……
Kacamatanya adalah penglihatan yang terhindar dari maksiat……
Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di akherat….
Kaki indahnya selalu menghadiri majelis ilmu……
Tanganya selalu berbuat baik pada sesama….
Pendengaran yang ma’ruf adalah anting muslimah…..
Gelangnya adalah tawadhu…..
Kalungnya adalah kesucian
Penghias rambutnya adalah jilbab yang terulur sampai dadanya…
Zikir yang senantiasa membasahi bibir adalah lipstiknya……
Kacamatanya adalah penglihatan yang terhindar dari maksiat……
Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di akherat….
Kaki indahnya selalu menghadiri majelis ilmu……
Tanganya selalu berbuat baik pada sesama….
Pendengaran yang ma’ruf adalah anting muslimah…..
Gelangnya adalah tawadhu…..
Kalungnya adalah kesucian
Sabtu, 20 April 2013
Cinta Karena Allah
“Cintailah
Allah karena nikmat yang dianugerahkan kepada kalian, cintailah aku karena
cinta kalian kepada-Nya”. (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim)
Alkisah pemuda pemuda sufi jatuh cinta pada seorang gadis. Cintanya pun berbalas. Namun malang, gadis itu dijodohkan orang tuanya dengan laki-laki lain. Karena dorongan cinta, gadis itu mencari siasat,”Aku datang padamu, atau kuatur cara supaya kamu bisa menyelinap ke rumahku”, begitu penjelasannya. “Tidak! Aku menolak kedua pilhan itu. Aku takut pada neraka yang nyalanya tak pernah padam!” itu jawaban sang pemuda sekaligus membuat sang gadis terhenyak.
Pemuda itu memenangkan iman atas syahwatnya dengan kekuatan cinta. “Jadi dia masih takut pada Allah?”, gumam sang gadis. Seketika ia tersadar, dan tiba-tiba dunia terasa kerdil di hadapannya. Ia pun bertaubat dan kemudian mewakafkan diri untuk beribadah. Tapi cintanya pada sang pemuda tidak mati. Cintanya berubah menjadi rindu yang berkelana dalam jiwa dan do’a-do’anya. Tubuhnya luluh latak didera rindu, dan akhirnya ia meninggal.
Sang pemuda terhentak. Itu mimpi buruk. Gadisnya telah pergi membawa semua cintanya. Maka kuburan sang gadislah tempat ia mencurahkan rindu dan do’a-do’anya. Sampai suatu saat ia tertidur di atas pusara sang gadis. Tiba-tiba sang gadis hadir dalam tidurnya, cantik, sangat cantik. “Apa kabar? Bagaimana keadaanmu setelah kepergianku”, tanya sang gadis. “Baik-baik saja. Kamu sendiri di sana bagaimana,”jawabnya sembari balik bertanya. “Aku di sini, di surga abadi, dalam nikmat hidup tanpa akhir.” Jawab sang gadis. “Do’akan aku, jangan pernah lupa padaku. Aku selalu ingat padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu”, tanya pemuda lagi. “Aku tidak pernah lupa padamu. Aku selalu berdo’a agar Allah menyatukan kita di surga, teruslah ibadah. Sebentar lagi engkau akan menyusulku,” jawab sang gadis.
Hanya tujuh malam setelah mimpi itu, sang pemuda pun menemui ajalnya. Atas nama cinta, ia memenangkan Allah atas dirinya sendiri, atas nama cinta pula Allah akan mempertemukan mereka. Cinta karena Allah, untuk Allah, bertemu dan berpisah karena Allah, mengantarkan pemiliknya pada kebahagiaan yang mendalam.
Tidak ada cinta yang mati disini. Semuanya bermuara pada Zat yang Maha Hidup dan Menghidupkan. Cinta di atas cinta, dan adakah yang lebih mulia cintanya dari suatu Zat yang begitu mencintai kita, yang tak pernah meninggalkan kita di saat kita galau dan bimbang. Cinta, semuanya atas nama cinta, cinta mampu mengangkat manusia menduduki posisi paling agung, ketika sang manusia mampu menempatkannya pada posisi terhormat di relung hatinya.
Cinta pada Yang Maha Mulia akan membuat seseorang jadi mulia, karena jiwanya terisi nuansa kemuliaan cinta yang ujungnya adalah menjayakan Allah dalam segala hal. Jiwanya tidak akan resah kalo-kalo cintanya ditolak. Cinta yang berlandaskan keyakinan pada Allah yang Maha Sempurna akan membuat dirinya tidak takut akan kenyataan. Apalah arti kehilangan harta, sanak famili, bahkan orang yang “dicintai”, jika cinta dan rindunya selalu terpaut pada perjumpaan dengan Sang Maha Kekasih.
Sudah semestinya cinta kepada Allah diletakkan di atas segala-galanya. Karena Dialah yang menciptakan cinta dan hati tempat cinta itu bersemayam. Cinta kepada Allah akan mewariskan kecintaan para hamba-Nya. Sebaliknya, cinta yang bukan karena-Nya hanya akan mengundang murka-Nya dan murka makhluk-Nya. Beruntunglah orang yang hanya mencintai Allah saja dalam hatinya, dan mencintai makhluk hanya sekedar mencintai karena-Nya.
Semestinya kita mencintai seseorang karena imannya, dan membenci seseorang karena maksiatnya. Tak selayaknya kepentingan duniawi mengubah arah cinta kita.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita cinta yang hakiki dan abadi hingga ke akhirat sana. Amin.
Alkisah pemuda pemuda sufi jatuh cinta pada seorang gadis. Cintanya pun berbalas. Namun malang, gadis itu dijodohkan orang tuanya dengan laki-laki lain. Karena dorongan cinta, gadis itu mencari siasat,”Aku datang padamu, atau kuatur cara supaya kamu bisa menyelinap ke rumahku”, begitu penjelasannya. “Tidak! Aku menolak kedua pilhan itu. Aku takut pada neraka yang nyalanya tak pernah padam!” itu jawaban sang pemuda sekaligus membuat sang gadis terhenyak.
Pemuda itu memenangkan iman atas syahwatnya dengan kekuatan cinta. “Jadi dia masih takut pada Allah?”, gumam sang gadis. Seketika ia tersadar, dan tiba-tiba dunia terasa kerdil di hadapannya. Ia pun bertaubat dan kemudian mewakafkan diri untuk beribadah. Tapi cintanya pada sang pemuda tidak mati. Cintanya berubah menjadi rindu yang berkelana dalam jiwa dan do’a-do’anya. Tubuhnya luluh latak didera rindu, dan akhirnya ia meninggal.
Sang pemuda terhentak. Itu mimpi buruk. Gadisnya telah pergi membawa semua cintanya. Maka kuburan sang gadislah tempat ia mencurahkan rindu dan do’a-do’anya. Sampai suatu saat ia tertidur di atas pusara sang gadis. Tiba-tiba sang gadis hadir dalam tidurnya, cantik, sangat cantik. “Apa kabar? Bagaimana keadaanmu setelah kepergianku”, tanya sang gadis. “Baik-baik saja. Kamu sendiri di sana bagaimana,”jawabnya sembari balik bertanya. “Aku di sini, di surga abadi, dalam nikmat hidup tanpa akhir.” Jawab sang gadis. “Do’akan aku, jangan pernah lupa padaku. Aku selalu ingat padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu”, tanya pemuda lagi. “Aku tidak pernah lupa padamu. Aku selalu berdo’a agar Allah menyatukan kita di surga, teruslah ibadah. Sebentar lagi engkau akan menyusulku,” jawab sang gadis.
Hanya tujuh malam setelah mimpi itu, sang pemuda pun menemui ajalnya. Atas nama cinta, ia memenangkan Allah atas dirinya sendiri, atas nama cinta pula Allah akan mempertemukan mereka. Cinta karena Allah, untuk Allah, bertemu dan berpisah karena Allah, mengantarkan pemiliknya pada kebahagiaan yang mendalam.
Tidak ada cinta yang mati disini. Semuanya bermuara pada Zat yang Maha Hidup dan Menghidupkan. Cinta di atas cinta, dan adakah yang lebih mulia cintanya dari suatu Zat yang begitu mencintai kita, yang tak pernah meninggalkan kita di saat kita galau dan bimbang. Cinta, semuanya atas nama cinta, cinta mampu mengangkat manusia menduduki posisi paling agung, ketika sang manusia mampu menempatkannya pada posisi terhormat di relung hatinya.
Cinta pada Yang Maha Mulia akan membuat seseorang jadi mulia, karena jiwanya terisi nuansa kemuliaan cinta yang ujungnya adalah menjayakan Allah dalam segala hal. Jiwanya tidak akan resah kalo-kalo cintanya ditolak. Cinta yang berlandaskan keyakinan pada Allah yang Maha Sempurna akan membuat dirinya tidak takut akan kenyataan. Apalah arti kehilangan harta, sanak famili, bahkan orang yang “dicintai”, jika cinta dan rindunya selalu terpaut pada perjumpaan dengan Sang Maha Kekasih.
Sudah semestinya cinta kepada Allah diletakkan di atas segala-galanya. Karena Dialah yang menciptakan cinta dan hati tempat cinta itu bersemayam. Cinta kepada Allah akan mewariskan kecintaan para hamba-Nya. Sebaliknya, cinta yang bukan karena-Nya hanya akan mengundang murka-Nya dan murka makhluk-Nya. Beruntunglah orang yang hanya mencintai Allah saja dalam hatinya, dan mencintai makhluk hanya sekedar mencintai karena-Nya.
Semestinya kita mencintai seseorang karena imannya, dan membenci seseorang karena maksiatnya. Tak selayaknya kepentingan duniawi mengubah arah cinta kita.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita cinta yang hakiki dan abadi hingga ke akhirat sana. Amin.
Sabtu, 13 April 2013
MENUTUP AURAT
Aurat dan Pakaian Keberhasilan
pertama kali yang diperoleh iblis dalam menggoda manusia setelah ia
mendapat vonis diusir dari surga adalah dengan melucuti pakaian Adam dan
Hawa sehingga terbuka auratnya.
Allah berfirman:
“Tatkala
keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya
aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun
surga… (QS. 7/Al A’raf: 22)
Dan ketika aurat telah terbuka
maka dampak maksiat yang muncul kemudian sebagai akibat logisnya tidak
dapat dihindarkan lagi. Di samping telah runtuhnya kehormatan dan
kemuliaan seseorang dengan aurat yang terbuka itu. Maka Allah swt
memperingatkan manusia agar berhati-hati menjaga auratnya dari godaan
setan yang senantiasa mengintainya.
Allah berfirman:
“Hai
anak Adam sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk
menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa
itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari
tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah mudahan mereka selalu ingat. Hai anak
Adam janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia
telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari
keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihatmu dari suatu tempat
yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah jadikan
syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak
beriman. QS. 7/Al A’raf: 26-27
Makna Aurat
Kata “aurat” menurut bahasa berarti an naqshu (kekurangan). Dan dalam istilah syar’iy (agama),
kata aurat berarti: sesuatu yang wajib di tutup dan haram dilihat. Dan
para ulama telah bersepakat tentang kewajiban menutup aurat baik dalam
shalat maupun di luar shalat.
Menjaga
aurat adalah konsekuensi logis dari konsep menundukkan pandangan, atau
sering pula disebut sebagai langkah kedua dalam mengendalikan keinginan
dan membangun kesadaran, setelah konsep menundukkan pandangan. Dari
itulah dua hal ini diletakkan dalam satu rangkaian ayat yang
mengisyaratkan adanya hubungan sebab akibat, atau keduanya sebagai dua
langkah strategis yang saling mendukung.
Hakikat menutup Aurat
Hakikat
pakaian menurut Islam ialah untuk menutup aurat, yaitu menutup bagian
anggota tubuh yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Syariat Islam
mengatur hendaknya pakaian tersebut tidak terlalu sempit atau ketat,
tidak terlalu tipis atau menerawang, warna bahannya pun tidak boleh
terlalu mencolok, dan model pakaian wanita dilarang menyerupai pakaian
laki-laki. Selanjutnya, baik kaum laki-laki maupun perempuan dilarang
mengenakan pakaian yang mendatangkan rasa berbangga-bangga,
bermegah-megahan, takabur dan menonjolkan kemewahan yang melampaui
batas.
AKU PASTI MATI
HIDUP DAN MATI
Apa perbedaan mati dan hidup?
Orang
mati tidak lagi makan, minum, mendengar, mengenal, berfikir, tidak
merasa apa yang ada menurut pandanan kita, tidak berkembang, tidak
bernafas, tidak menikah, tidak melahirkan anak. Orang hidup sebaliknya.
Maka
renungkanlah dengan baik. Bagaimana makanan yang mati dan beku itu
berubah menjadi kehidupan. Terjadi setiap hari di tubuh kita. Perhatikan
tanganmu yang dahulu kecil, kemudian dengan makanan yang sudah mati itu
semakin bertambah besar, sehinggga menjadi tangan yang hidup. Lalu
bandingkan dengan tangan mayit, yang dahulu aktif dan hidup, tiba-tiba
menjadi kaku dan mati.
Maka siapakah yang memberikan kehidupan pada benda-benda mati? Dan siapakah yang memutuskan kematian pada makhluk hidup?
Berhala-berhala mati, tidak memiliki kematian atau kehidupan.
Alam mati, tidak memiliki kematian dan kehidupan, akal atau pengelolaan.
Sesungguhnya
semua yang hidup akan dipaksa mati. Dia harus mati. Karena kematian dan
kehidupan tidak ada di tangannya, akan tetapi ada di tangan Allah.
Pemilik segala sesuatu. Melakukan apa yang diinginkan. Firman Allah:
“Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dia menghidupkan dan mematikan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Hadidi: 2)
“Dan
dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur)
pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Al-Mukminun: 80).
MATI SETELAH HIDUP
Mengapa kita mati?
Sesungguhnya
hanya Allah yang menghidupkan kita dan mematikan kita. Allah swt telah
memberitahukan kepada kita bahwa hikmah dari kematian adalah perpindahan
dari darul amal (rumah kerja) menuju darul jaza’ (rumah balasan), setiap orang mendapatkan balasan dari apa yang pernah dikerjakan. Firman Allah:
“Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan
dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)
TIDAK ADA TEMPAT BERLARI DARINYA
Adakah tempat berlari dari kematian?
Aneh
sekali orang yang tidak meyakini kematian, padahal ia menyaksikan
orang-orang mati. Kematian itu tidak ada seorangpun di muka bumi ini
yang mengingkarinya. Akan tetapi banyak orang yang menolak dirinya
mengenang kematian itu, bersiap menghadapi pasca kematian. Mereka
berlari dari mengingatnya padahal mereka akan menemuinya, menjauhkan
diri darinya padahal kematian itu mendatanginya. Firman Allah:
“Katakanlah:
“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya
kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada
(Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan
kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (Al-Jumu’ah: 8 )
KEPUTUSAN YANG DITUNDA
Apakah kematian itu ada di tangan manusia?
Jawabannya
jelas. Sesungguhnya hidup itu tidak ada di tangan manusia, jika tidak
demikian maka setiap orang yang mati akan menghidupkan dirinya sendiri.
Demikian juga kematian tidak ada di tangan manusia. Jika ada di tangan
manusia maka tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mati.
Lalu ada di tangan siapa?
Kematian
ada di tangan Yang telah menghidupkan dan menciptakan manusia. Di
tangan Allah swt. Anda akan melihat ketentuan umum yang berlaku pada
sunnatul maut wal hayat (mati dan hidup). Pada waktu kurang dari seratus
tahun kita umumnya sudah mati, sebagaimana sebelum seratus tahun yang
lalu kita belum ada di dunia. Demikianlah orang-orang sebelum kita,
meski dengan perbedaan umur dan bilangan tahun….
“Tiap-tiap
umat mempunyai batas waktu. Maka apabila Telah datang waktunya mereka
tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)
memajukannya.” (Al-A’raf: 34)
Masing-maing kita akan hidup
terbatas, ditentukan dengan ilmu Allah swt. Dan peran kita di dunia ini
juga sudah jelas sesuai dengan ketentuan umum. Masing-masing kita
memiliki ajal terbatas. Jika telah datang tidak bisa ditunda. Betapa
banyak orang yang dalam keadaan sehat wal afiat, dengan mendadak
berpindah ke sisi Rabbnya.
Ditunjukkan kepadanya sebab yang paling kecil, bagi kematiannya. Firman Allah:
“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila Telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.” (Nuh: 4)
Sebaliknya
betapa banyak orang yang mengalami sakit yang sangat berbahaya,
mengalami luka yang berat, atau tercabik-cabik oleh senjata perang, atau
penyakit berat lainnya. Betapa banyak orang yang menghadapi serangan
tepat dan mematikan, atau situasi yang membinasakan, akan tetapi mereka
tetap hidup, tidak mati. Hal ini karena ajalnya belum sampai. Firman
Allah:
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya.” (Ali Imran: 145)
Langganan:
Postingan (Atom)

